Saya sedang berusaha menyelesaikan editing video, ketika rekan kerja saya Aubrey harus memonitor berita TV nasional. Dia harus merekam suara bapak presiden yang katanya mau berbelasungkawa atas kepergian Hasan di Tiro. Dan ketika berita-berita sudah mulai berkoar-koar, hampir semua TV swasta memang sedang menaikan berita mengenai penembakan kapal misi kemanusian “Mavi Marmara” dan protes-protes di seluruh belahan dunia terhadap aksi penyerangan militer Israel tersebut.
Hampir dalam setiap protes atau demonstrasi itu, ada manusia-manusia berteriak berorasi dengan penuh kemarahan, pembakaran bendera, makian juga kutukan keluar dari mulut-mulut segerombolan orang.
Dan telepon genggam saya pun berbunyi… “Mbak Metta” nama yang muncul sebagai caller ID, sepupu saya.
“halloooo…, sibuk?”
“eh, kenapa mbak? ga terlalu kok..”
“gimana gimana, jadi ke Jogja ga ‘de?”
“naaah.. itu dia mbak, kayaknya diriku masih tentatif ni jadinya. Maaf ya mbak. Tiba-tiba banyak issue menghangat gini. Jadi belum bisa pasti pergi atau ngga.”
“emang ada issue hangat apa si ‘de?”
“itu lho President Amerika kan mau datang, dan ini Israel Palestina juga lagi hot gara-gara penyerangan kapal kemanusiaan itu. Jadi banyak demo nih mbak, dan seperti biasalah, Amerika pasti kebawa kalau udah nyebut Israel kan…”
“iya yah, tapi itu lho ‘de, ngapain juga sih pada demo, emang ada efeknya ya? Katanya mau perdamaian, tapi kok mengutuk ya?”
“namanya juga panggung politik mbak.. internasional lagi, hehehe, jadi harus keras mungkin…”
“hahaha, gitu ya ‘de. Jadi semuanya kebawa negatif ya… Ya sudah lah, nanti kabar-kabari ya kalau bisa pergi ke Jogya..”
“ok mbak, pasti. Thanks for calling ya.”
Begitu percakapan saya dan sepupu saya Metta hari ini. Saya jadi berpikir lebih keras lagi.
Bukan! Bukan tentang konflik Israel Palestina. Tapi tentang demonstrasi-demonstrasi dan kedamaian tadi. Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di kepala saya. Seperti misalnya, apakah tidak ada cara lain selain mengutuk, marah-marah, atau main bakar-bakaran (aduh, pemanasan global lho).
Semua orang berpikir ingin merubah dunia, tanpa mau berpikir harus merubah dirinya sendiri. Itu kata-kata bijak dari seorang yang terkenal, yang jujur saja saya lupa siapa. Tapi belakangan kata-kata sakti itu kerap muncul di benak saya.
Memang kejadian penyerangan itu adalah sebuah tragedi. Tapi haruskah sebuah tindakan negatif diikuti dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa negatif lagi? Jadi demonstrasi itu negatif? Oh, bukan Demonstrasi nya yang negatif. Tapi coba bayangkan, sekumpulan orang, terprovokasi orasi yang meledak ledak karena kemarahan. Sang orator begitu termakan oleh emosi kebencian, mengajak semua yang bergabung untuk mengutuk. Seberapa besar energi negatif yang muncul?
Akan sangat berbeda ketika segerombolan orang berkumpul dan berdoa untuk kedamaian. Atau segerombolan orang berkumpul dan tersenyum mengajak orang untuk berpikir positif dan berharap kedamaian itu akan datang.
Bagaimana bisa berharap kedamaian dengan menghadirkan kutukan? Bagaimana bisa mengutuk tanpa menghadirkan energi negatif? Bagaimana bisa kedamaian hadir bila tanpa pikiran positif? Bisa kah kita manusia tidak terpancing yang serba negatif dan tetap mendoakan mereka yang terzalimi dan menzalimi? Bukan kah perdamaian yang diharapkan semua?
Pikiran saya masih sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan tadi ketika Aubrey menepak bahu saya.
“Dude, i’m done, i’m going home, ok?”
“oh, ok ‘brey, take care..”
“ok thanks, see ya..”
Aubrey pun meningggalkan saya sendiri di dalam ruangan kerja. Saya pun mematikan TV, berharap kedamaian tetap akan ada di hati mereka, yang menjadi korban, pelaku, maupun mereka semua yang bersedih dan marah akan terjadinya tragedi kapal kemanusiaan ini. Amin.